Agus juga menjelaskan, bank sampah RW 05 Dago menerima sampah anorganik kardus, plastik, kertas, besi, hingga minyak jelantah. Selain itu, mereka juga mengolah sampah organik dari warga.
“Kita sediakan ember-ember. Sehingga masyarakat bisa mengumpulkan sisa makanan mereka ke ember tersebut dan kita jemput setiap Sabtu,” terangnya.
Saat ini, Dabaresih memiliki fasilitas mulai dari pengolahan sampah organik, bata terawang, lodong sesa dapur (loseda), drum komposter, serta wadah sisa makanan (wasima).
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, kelompok swadaya masyarakat ini mengagas kolaborasi dengan restoran yang ada di wilayah sekitar untuk mengolah sampah produksi makanan.
Berbicara tantangan, Agus tak memungkiri dalam tiga tahun ini sosialisasi menjadi kendala mengubah kebiasaan masyarakat menjadi lebih baik.
Meski begitu, ia mengaku saat ini masyarakat RW 05 Dago sudah teredukasi dan kompak menerapkan Kang Pisman.
“Kalau warga diperhatikan, diedukasi, mereka mau untuk memilah sampah. Tapi memang perlu kita monitoring. Tidak lepas dari monitoring pengurus RW, Lurah, Camat,” tuturnya.
Persiapkan Kolaborasi
Ada banyak inovasi pengolahan sampah menjadi energi terbarukan di berbagai kota/kabupaten di Indonesia. Berkaca pada hal tersebut, Dabaresih juga sedang mempersiapkan langkah ke sana.
Editor : Dhardiana
Sumber Berita : Humas Pemkot Bandung
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

























